Percayalah pada sesuatu yang senantiasa terlintas dalam
angan dan impian yang kadang terbesit dalam bayangan kita, sebab mimpi entah
itu tentang hal yang ajaib, menakjubkan ataupun sederhana jika dihayati
dengan baik, sejogyanya akan memberi kekuatan penuh dalam diri atas suatu
pencapaian, prestasi dan hasil yang luar biasa. Banyak ahli filosofi menggambarkan
mimpi sebagai satu langkah awal menuju peristiwa hebat dikemudian hari dalam
fase hidup kita, hal tersebut bukanlah tanpa alasan sebab mimpi merupakan
manifestasi dari apa yang kita harapkan dan inginkan melalui renungan dan tahap
refleksi kedalam.
Mengenai mengapa manusia bermimpi dan mengapa mimpi sering
kali menjadi suatu hal unik yang kerap ditafsirkan, merupakan topik yang
masih diteliti oleh ilmuwan (dalam hal ini psikologi), pendekatan psikologi
yang paling rasional mengenai mimpi berasal dari konsep Psikoanalisa oleh
Sigmun Freud, ia menyebutkan proses mimpi yang dialami oleh seseorang berasal dari
gejolak alam bawah sadar yang mendominasi tiap pikiran liar, perwujudan dari
sebuah harapan dan spekulasi akan keinginan yang terpendam. Terkait dengan
datangnya suatu mimpi, banyak orang zaman dahulu yang menyebutkan sebagai pesan dari Tuhan
berupa wasiat atau teka teki untuk membantu menyelesaikan permasalahan,
karenanya banyak buku yang memuat makna tafsir mimpi, beberapa yang terkenal
adalah kitab tafsir mimpi dari negara Arab, China dan India. Namun berdasarkan
perubahan zaman saat ini, para ilmuan lebih tertarik mengaplikasikan mimpi sebagai
suatu bentuk therapy atau pengobatan
bagi seseorang dengan beberapa keluhan psikologis yang mereka derita.
Pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh seseorang mengenai
suatu peristiwa yang baik ataupun tercela, memalukan atau membanggakan, erotis
atau luhur, umumnya akan selalu ada dalam ingatan. Entah pada
akhirnya akan mereka repress kedalam
alam bawah sadar atau mereka manipulasi menjadi perilaku baru yang ia miliki, tentunya dapat tetap terlihat dari sikap yang tanpa sadar merepresentasikan pengalaman
tersebut. Tahap perkembangan life span
seseorang sudah tentu tidak berjalan semulus siklus yang semestinya, beberapa
peristiwa yang kian terjadi memberikan pengaruh atas konsep pemahaman dan value tersendiri. Hal tersebutlah yang
menjadi pemicu utama timbulnya gejala ketidakstabilan emosi, akan kondisi
psikologis berupa syndrome patologi
tertentu. Terkait hal tsb pendekatan akan metode penyembuhan penyakit mental
coba diungkap pertama kali oleh Sigmun Freud yang mengusung konsep “Analisis
Mimpi.”
Mengacu kepada pendekatan tunggal Sigmun Freud tentang alam
bawah sadar sebagai fokus dari proses penyembuhan, mengaplikasikan mimpi sebagai
reaksi atas impuls terpendam yang tidak terwujud kepada perilaku seseorang saat
bersosialisasi dengan lingkungannya. Umumnya ahli terapis tsb meminta klien
untuk menceritakan mimpi yang dialami atau bahkan membuat mereka merasa relax mengantarkan gelombang otak
kepada fase Delta, dengan kecepatan gelombang otak sebesar 0,5-4 Hz yakni saat
gelombang otak semakin melambat, saat klien sedang berada pada kondisi tidur
yang sangat dalam, diiringi dengan pelepasan hormon pertumbuhan manusia (Human
Growth Hormone). Saat kondisi gelombang Delta dihasilkan seseorang akan berada
pada kondisi terjaga, hingga menyediakan peluang untuk mengakses aktivitas alam
bawah sadar, yang mendorong aliran kepikiran sadar dan sering kali memiliki
perasaan kuat terhadap empati dan intuisi hingga menghasilkan emosi positif
akan sebuah makna penghayatan mengenai sesuatu yang pernah klien alami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar