Selasa, 06 Agustus 2013

tentang Mimpi pendekatan Sigmun Freud



Percayalah pada sesuatu yang senantiasa terlintas dalam angan dan impian yang kadang terbesit dalam bayangan kita, sebab mimpi entah itu tentang hal yang ajaib, menakjubkan ataupun sederhana jika dihayati dengan baik, sejogyanya akan memberi kekuatan penuh dalam diri atas suatu pencapaian, prestasi dan hasil yang luar biasa. Banyak ahli filosofi menggambarkan mimpi sebagai satu langkah awal menuju peristiwa hebat dikemudian hari dalam fase hidup kita, hal tersebut bukanlah tanpa alasan sebab mimpi merupakan manifestasi dari apa yang kita harapkan dan inginkan melalui renungan dan tahap refleksi kedalam. 

Mengenai mengapa manusia bermimpi dan mengapa mimpi sering kali menjadi suatu hal unik yang kerap ditafsirkan, merupakan topik yang masih diteliti oleh ilmuwan (dalam hal ini psikologi), pendekatan psikologi yang paling rasional mengenai mimpi berasal dari konsep Psikoanalisa oleh Sigmun Freud, ia menyebutkan proses mimpi yang dialami oleh seseorang berasal dari gejolak alam bawah sadar yang mendominasi tiap pikiran liar, perwujudan dari sebuah harapan dan spekulasi akan keinginan yang terpendam. Terkait dengan datangnya suatu mimpi, banyak orang zaman dahulu yang menyebutkan sebagai pesan dari Tuhan berupa wasiat atau teka teki untuk membantu menyelesaikan permasalahan, karenanya banyak buku yang memuat makna tafsir mimpi, beberapa yang terkenal adalah kitab tafsir mimpi dari negara Arab, China dan India. Namun berdasarkan perubahan zaman saat ini, para ilmuan lebih tertarik mengaplikasikan mimpi sebagai suatu bentuk therapy atau pengobatan bagi seseorang dengan beberapa keluhan psikologis yang mereka derita.

Pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh seseorang mengenai suatu peristiwa yang baik ataupun tercela, memalukan atau membanggakan, erotis atau luhur, umumnya akan selalu ada dalam ingatan. Entah pada akhirnya akan mereka repress kedalam alam bawah sadar atau mereka manipulasi menjadi perilaku baru yang ia miliki, tentunya dapat tetap terlihat dari sikap yang tanpa sadar merepresentasikan pengalaman tersebut. Tahap perkembangan life span seseorang sudah tentu tidak berjalan semulus siklus yang semestinya, beberapa peristiwa yang kian terjadi memberikan pengaruh atas konsep pemahaman dan value tersendiri. Hal tersebutlah yang menjadi pemicu utama timbulnya gejala ketidakstabilan emosi, akan kondisi psikologis berupa syndrome patologi tertentu. Terkait hal tsb pendekatan akan metode penyembuhan penyakit mental coba diungkap pertama kali oleh Sigmun Freud yang mengusung konsep “Analisis Mimpi.” 

Mengacu kepada pendekatan tunggal Sigmun Freud tentang alam bawah sadar sebagai fokus dari proses penyembuhan, mengaplikasikan mimpi sebagai reaksi atas impuls terpendam yang tidak terwujud kepada perilaku seseorang saat bersosialisasi dengan lingkungannya. Umumnya ahli terapis tsb meminta klien untuk menceritakan mimpi yang dialami atau bahkan membuat mereka merasa relax mengantarkan gelombang otak kepada fase Delta, dengan kecepatan gelombang otak sebesar 0,5-4 Hz yakni saat gelombang otak semakin melambat, saat klien sedang berada pada kondisi tidur yang sangat dalam, diiringi dengan pelepasan hormon pertumbuhan manusia (Human Growth Hormone). Saat kondisi gelombang Delta dihasilkan seseorang akan berada pada kondisi terjaga, hingga menyediakan peluang untuk mengakses aktivitas alam bawah sadar, yang mendorong aliran kepikiran sadar dan sering kali memiliki perasaan kuat terhadap empati dan intuisi hingga menghasilkan emosi positif akan sebuah makna penghayatan mengenai sesuatu yang pernah klien alami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar