Jumat, 04 Oktober 2013

Simtom Skizofrenia



Mendadak segala sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Saya mulai kehilangan kendali atas hidup saya dan terutama diri saya. Saya tidak bisa berkonsentrasi pada tugas-tugas kuliah, tidak bisa tidur, dan ketika saya tidur, saya bermimpi tentang kematian. Saya takut masuk ruang kuliah, membayangkan bahwa orang-orang membicarakan saya, dan diatas semua itu saya mendengar suara-suara. Saya menelpon ibu dan meminta saran. Ia menyuruh saya pindah dari kampus dan tinggal bersama kaka saya.

Setelah tinggal bersama dengan kaka saya, keadaan menjadi semakin buruk. Saya takut pergi keluar rumah dan bila saya melihat keluar jendela, semua orang diluar seolah-olah berteriak, “bunuh dia, bunuh dia.” Kakak saya memaksa saya untuk pergi ke kampus. Saya pergi keluar rumah sampai saya tahu ia telah berangkat ke tempat kerjanya ; setelah itu saya kembali ke rumah namun keadaan terus memburuk. Saya membayangkan bau badan saya tidak enak dan kadang mandi hingga 6 kali sehari. Suatu hari saya pergi ke toko dan saya membayangkan orang-orang tersebut berkata “carilah tempat aman, selamatkan diri anda sekalian.” Keadaan semakin memburuk dan saya tidak bisa mengingat apapun. Saya memiliki buku catatan yang berisi segala sesuatu yang harus saya lakukan pada suatu hari tertentu. Kini saya tidak bisa mengingat tugas kuliah dan saya belajar dari jam 6 sore hingga jam 4 pagi, namun tidak berani berangkat ke kampus pada esok harinya.

Saya berusaha menceritakan kepada kakak saya mengenai apa yang telah saya alami, namun ia tidak mengerti. Ia malah menyarankan saya untuk menemui Psikiater, namun saya takut keluar rumah untuk menemui Psikiater. Hingga suatu hari saya memutuskan bahwa saya tidak sanggup menanggung trauma ini lebih lama, lalu saya meminum sebanyak 35 pil Diovan(1). Pada saat yang sama, sebuah suara di dalam diri saya berkata “untuk apa kamu melakukannya? Sekarang kamu tidak akan masuk surga.” Detik itu juga saya sadar bahwa saya tidak sungguh-sungguh ingin mati. Saya ingin hidup, tetapi saya takut. Kemudian saya mengambil telepon dan menelepon Psikiater yang direkomendasikan oleh kakak saya. Saya katakan kepadanya bahwa saya telah meminum pil Diovan dalam dosis yang berlebihan dan saya takut. 

Kemudian ia menyuruh saya untuk pergi ke rumah sakit, dan saya mulai muntah tetapi saya tidak pingsan. Karena satu dan lain hal, saya tidak bisa menerima kenyataannya bahwa saya benar-benar menemui seorang Psikiater. Saya menganggap Psikiater hanya untuk orang-orang gila dan saya jelas tidak menganggap diri saya gila. Akibatnya saya tidak langsung menemui Psikiater, sebaliknya saya meninggalkan rumah sakit dan akhirnya bertemu dengan kakak saya dalam perjalanan pulang ke rumah. Namun ia menyuruh saya kembali pada saat itu juga, karena saya jelas harus meminta bantuan Psikiater. Saya kemudian menelpon ibu, dan ia mengatakan akan datang esok hari (Kisah Nyata O’neil, 1984)



Perempuan muda yang di gambarkan dalam cerita tersebut didiagnosis menderita Skizofrenia. Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran, emosi dan prilaku. Akibat pikiran yang terganggu, dimana berbagai pemikiran tidak saling berhubungan secara logis akibat persepsi dan perhatian yang keliru, afek yang datar atau tidak sesuai dan berbagai aktivitas motorik yang aneh (dimana terjadi suatu kesalahan dalam gerakan tubuh seseorang yang berhubungan dengan otot, syaraf dan otaknya). Pasien skizofrenia menarik diri dari orang lain dan kenyataan, sering kali masuk ke dalam kehidupan fantasi yang penuh delusi dan halusinasi. Skizofrenia merupakan satu dari berbagai psikopatologi yang memiliki prevalensi kurang dari 1 persen diderita oleh laki-laki dan perempuan yang kurang lebih sama banyaknya. Merupakan luapan dari masa kanak-kanak, gangguan ini biasanya muncul pada akhir masa remaja dan awal masa dewasa.  Orang –orang yang menderita skizofrenia umumnya mengalami beberapa episode akut dari simtom atau gejala. Diantara setiap episode, mereka sering mengalami simtom yang tidak terlalu parah namun tetap menggangu keberfungsian mereka.


Simtom Klinis Skizofrenia

Simtom yang dialami pasien skizofrenia mencangkup gangguan dalam beberapa hal penting, yaitu pikiran, persepsi dan perhatian mencangkup prilaku motorik, afeksi atau emosi serta keberfungsian hidup. Simtom utama dalam skizofrenia dibagi dalam 3 kategori yakni; positif, negatif dan disorganisasi.

1.1   Simtom Positif
Simtom positif mencangkup hal-hal yang berlebihan dan distorsi, seperti halusinasi dan waham. Ciri demikian menjadi ciri episode akut skizofrenia.
Delusi atau dikenal dengan istilah waham. Gejala ini terjadi seperti saat kita merasa khawatir karena kita yakin bahwa orang lain berfikir buruk tentang diri kita. Kita beranggapan bahwa orang-orang disekitar kita akan menyerang kita dengan berbagai konspirasi mencelakai kita, memata-matai dan bahkan mengejar kita. Bahkan bila penderita tersebut bertemu dengan orang baru, maka ia akan menanyai dengan panjang lebar untuk mengetahui apakah orang tersebut menjadi bagian dari konspirasi melawan. Waham atau delusi merupakan keyakinan yang berlawanan dengan kenyataan.
Halusinasi dan gangguan persepsi lain. Pasien skizofrenia sering kali menuturkan bahwa dunia tampak berbeda bahkan tidak nyata bagi mereka. Namun distorsi persepsi yang paling dramatis adalah Halusinasi ; yaitu sebuah pengalaman indrawi tanpa adanya stimulasi dari lingkungan, namun yang paling sering terjadi adalah halusinasi auditori.

1.2   Simtom Negatif
Simtom negatif mencangkup berbagai defisit behavioral seperti avolition, alogia, anhedonia, afek datar, dan asosialitas. Banyaknya simtom negatif merupakan prediktor kuat terhadap kualitas hidup yang rendah (seperti; ketidakmampuan bekerja, hanya memiliki teman). Perlu diperhatikan bahwa pada saat mengukur simtom negatif, penting untuk memilah mana yang merupakan simtom skizofrenia sesungguhnya ataukah disebabkan beberapa faktor lain seperti efek samping akibat pengaruh obat antipsikotik.

Avolition atau apati adalah, kondisi kurangnya energy dan ketidakadaan minat atau ketidakmampuan untuk tekun melakukan apa yang biasanya merupakan aktivitas rutin. Pasien dapat menjadi tidak tertarik untuk berdandan dan menjaga kebersihan diri, dengan rambut yang tidak tersisir, kuku kotor, gigi yang tidak disikat, dan pakaian yang berantakan. Mereka umumnya menghabiskan sebagian besar waktu untuk duduk-duduk tanpa melakukan apapun.
Alogia merupakan, gangguan atas pikiran negatif yang terwujud dalam beberapa bentuk. Dalam miskin percakapan, jumlah total percakapan sangat jauh berkurang. Dalam miskin isi percakapan, jumlah percakapan memadai namun hanya mengandung sedikit informasi dan cenderung membingungkan serta diulang-ulang.

Anhedonia merupakan, ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan. Tercermin dalam kurangnya minat dalam berbagai aktivitas rekreasional, gagal untuk mengembangkan hubungan dekat dengan orang lain dan kurangnya minat dalam melakukan hubungan seks. Dalam hal ini pasien tsb sadar akan simtom yang dideritanya dan menuturkan bahwa apa yang biasanya dianggap sebagai aktivitas yang menyenangkan tidaklah dirasakan demikian lagi bagi mereka.
Afek Datar merupakan, gejala pandangan kosong, otot wajah yang kendur dan mata yang tidak hidup. Ketika diajak bicara, mereka menjawab dengan suara datar, dan tanpa nada.
Asosialitas, merupakan ketidakmampuan dalam menjalin hubungan sosial. Mereka hanya memiliki sedikit teman, keterampilan sosial yang rendah dan kurang berminat untuk berkumpul bersama orang lain.

1.3   Simtom Disorganisasi
Simtom ini mencangkup disorganisasi pembicaraan dan prilaku aneh.
a)      Disorganisasi pembicaraan ; dikenal sebagai gangguan berfikir formal yang merujuk pada masalah mengorganisasikan pemikiran dalam berbicara. Sehingga pendengar dapat mengetahui ada suatu hal yang aneh. Dalam disorganisasi pembicaraan, kadang pasien mengalami apa yang disebut asosiasi longgar atau keluar jalur (derailment) yakni pasien berhasil dalam komunikasi namun kesulitan untuk tetap berada pada suatu topik.

b)      Perilaku aneh terwujud dalam banyak bentuk. Pasien dapat meledak kemarahannya dalam konfrontasi singkat yang tidak dimengerti; seperti memakai pakaian yang tidak biasa, bertingkah laku seperti anak-anak, atau dengan gaya yang konyol menyimpan makanan, mengumpulkan sampah, atau melakukan perilaku seksual yang tidak pantas seperti melakukan masturbasi di depan umu. Mereka tampak kehilangan kemampuan untuk mengatur perilaku dan menyesuaikan dengan standar masyarakat.


 


(1) Diovan (valsartan) digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi atau dapat juga digunakan untuk mengobati gagal jantung pada pasien yang tidak mentoleransi angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor. Diovan adalah angiotensin II receptor blocker yang bekerja dengan cara memblokir hormon yang mengencangkan pembuluh darah. Hal ini menyebabkan pembuluh darah untuk bersantai (dilatasi), yang menurunkan tekanan darah dan mengurangi beban kerja pada jantung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar