Mendadak segala sesuatu tidak berjalan
sebagaimana mestinya. Saya mulai kehilangan kendali atas hidup saya dan
terutama diri saya. Saya tidak bisa berkonsentrasi pada tugas-tugas kuliah,
tidak bisa tidur, dan ketika saya tidur, saya bermimpi tentang kematian. Saya
takut masuk ruang kuliah, membayangkan bahwa orang-orang membicarakan saya, dan
diatas semua itu saya mendengar suara-suara. Saya menelpon ibu dan meminta
saran. Ia menyuruh saya pindah dari kampus dan tinggal bersama kaka saya.
Setelah tinggal bersama dengan kaka
saya, keadaan menjadi semakin buruk. Saya takut pergi keluar rumah dan bila
saya melihat keluar jendela, semua orang diluar seolah-olah berteriak, “bunuh
dia, bunuh dia.” Kakak saya memaksa saya untuk pergi ke kampus. Saya pergi
keluar rumah sampai saya tahu ia telah berangkat ke tempat kerjanya ; setelah
itu saya kembali ke rumah namun keadaan terus memburuk. Saya membayangkan bau
badan saya tidak enak dan kadang mandi hingga 6 kali sehari. Suatu hari saya
pergi ke toko dan saya membayangkan orang-orang tersebut berkata “carilah
tempat aman, selamatkan diri anda sekalian.” Keadaan semakin memburuk dan saya
tidak bisa mengingat apapun. Saya memiliki buku catatan yang berisi segala
sesuatu yang harus saya lakukan pada suatu hari tertentu. Kini saya tidak bisa
mengingat tugas kuliah dan saya belajar dari jam 6 sore hingga jam 4 pagi,
namun tidak berani berangkat ke kampus pada esok harinya.
Saya berusaha menceritakan kepada
kakak saya mengenai apa yang telah saya alami, namun ia tidak mengerti. Ia
malah menyarankan saya untuk menemui Psikiater, namun saya takut keluar rumah
untuk menemui Psikiater. Hingga suatu hari saya memutuskan bahwa saya tidak
sanggup menanggung trauma ini lebih lama, lalu saya meminum sebanyak 35 pil Diovan(1). Pada saat yang sama, sebuah
suara di dalam diri saya berkata “untuk apa kamu melakukannya? Sekarang kamu
tidak akan masuk surga.” Detik itu juga saya sadar bahwa saya tidak
sungguh-sungguh ingin mati. Saya ingin hidup, tetapi saya takut. Kemudian saya
mengambil telepon dan menelepon Psikiater yang direkomendasikan oleh kakak
saya. Saya katakan kepadanya bahwa saya telah meminum pil Diovan dalam dosis
yang berlebihan dan saya takut.
Kemudian ia menyuruh saya untuk pergi ke rumah
sakit, dan saya mulai muntah tetapi saya tidak pingsan. Karena satu dan lain
hal, saya tidak bisa menerima kenyataannya bahwa saya benar-benar menemui
seorang Psikiater. Saya menganggap Psikiater hanya untuk orang-orang gila dan
saya jelas tidak menganggap diri saya gila. Akibatnya saya tidak langsung
menemui Psikiater, sebaliknya saya meninggalkan rumah sakit dan akhirnya
bertemu dengan kakak saya dalam perjalanan pulang ke rumah. Namun ia menyuruh
saya kembali pada saat itu juga, karena saya jelas harus meminta bantuan
Psikiater. Saya kemudian menelpon ibu, dan ia mengatakan akan datang esok hari
(Kisah Nyata O’neil, 1984)
Perempuan muda yang di gambarkan dalam cerita tersebut
didiagnosis menderita Skizofrenia. Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang
ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran, emosi dan prilaku. Akibat pikiran
yang terganggu, dimana berbagai pemikiran tidak saling berhubungan secara logis
akibat persepsi dan perhatian yang keliru, afek yang datar atau tidak sesuai
dan berbagai aktivitas motorik yang aneh (dimana terjadi suatu kesalahan dalam
gerakan tubuh seseorang yang berhubungan dengan otot, syaraf dan otaknya).
Pasien skizofrenia menarik diri dari orang lain dan kenyataan, sering kali
masuk ke dalam kehidupan fantasi yang penuh delusi dan halusinasi. Skizofrenia
merupakan satu dari berbagai psikopatologi yang memiliki prevalensi kurang dari
1 persen diderita oleh laki-laki dan perempuan yang kurang lebih sama
banyaknya. Merupakan luapan dari masa kanak-kanak, gangguan ini biasanya muncul
pada akhir masa remaja dan awal masa dewasa.
Orang –orang yang menderita skizofrenia umumnya mengalami beberapa
episode akut dari simtom atau gejala.
Diantara setiap episode, mereka sering mengalami simtom yang tidak terlalu parah namun tetap menggangu
keberfungsian mereka.
Simtom Klinis Skizofrenia
Simtom yang dialami pasien skizofrenia mencangkup gangguan
dalam beberapa hal penting, yaitu pikiran, persepsi dan perhatian mencangkup
prilaku motorik, afeksi atau emosi serta keberfungsian hidup. Simtom utama
dalam skizofrenia dibagi dalam 3 kategori yakni; positif, negatif dan
disorganisasi.
1.1 Simtom
Positif
Simtom positif mencangkup hal-hal
yang berlebihan dan distorsi, seperti halusinasi dan waham. Ciri demikian
menjadi ciri episode akut skizofrenia.
Delusi atau dikenal dengan istilah
waham. Gejala ini terjadi seperti saat kita merasa khawatir karena kita yakin
bahwa orang lain berfikir buruk tentang diri kita. Kita beranggapan bahwa
orang-orang disekitar kita akan menyerang kita dengan berbagai konspirasi
mencelakai kita, memata-matai dan bahkan mengejar kita. Bahkan bila penderita
tersebut bertemu dengan orang baru, maka ia akan menanyai dengan panjang lebar
untuk mengetahui apakah orang tersebut menjadi bagian dari konspirasi melawan.
Waham atau delusi merupakan keyakinan yang berlawanan dengan kenyataan.
Halusinasi dan gangguan persepsi
lain. Pasien skizofrenia sering kali menuturkan bahwa dunia tampak berbeda
bahkan tidak nyata bagi mereka. Namun distorsi persepsi yang paling dramatis
adalah Halusinasi ; yaitu sebuah pengalaman indrawi tanpa adanya stimulasi dari
lingkungan, namun yang paling sering terjadi adalah halusinasi auditori.
1.2 Simtom
Negatif
Simtom negatif mencangkup berbagai
defisit behavioral seperti avolition, alogia, anhedonia, afek datar, dan
asosialitas. Banyaknya simtom negatif merupakan prediktor kuat terhadap
kualitas hidup yang rendah (seperti; ketidakmampuan bekerja, hanya memiliki
teman). Perlu diperhatikan bahwa pada saat mengukur simtom negatif, penting
untuk memilah mana yang merupakan simtom skizofrenia sesungguhnya ataukah
disebabkan beberapa faktor lain seperti efek samping akibat pengaruh obat
antipsikotik.
Avolition atau apati adalah, kondisi kurangnya energy dan
ketidakadaan minat atau ketidakmampuan untuk tekun melakukan apa yang biasanya
merupakan aktivitas rutin. Pasien dapat menjadi tidak tertarik untuk berdandan
dan menjaga kebersihan diri, dengan rambut yang tidak tersisir, kuku kotor,
gigi yang tidak disikat, dan pakaian yang berantakan. Mereka umumnya
menghabiskan sebagian besar waktu untuk duduk-duduk tanpa melakukan apapun.
Alogia merupakan, gangguan atas
pikiran negatif yang terwujud dalam beberapa bentuk. Dalam miskin percakapan,
jumlah total percakapan sangat jauh berkurang. Dalam miskin isi percakapan,
jumlah percakapan memadai namun hanya mengandung sedikit informasi dan
cenderung membingungkan serta diulang-ulang.
Anhedonia merupakan, ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan.
Tercermin dalam kurangnya minat dalam berbagai aktivitas rekreasional, gagal
untuk mengembangkan hubungan dekat dengan orang lain dan kurangnya minat dalam
melakukan hubungan seks. Dalam hal ini pasien tsb sadar akan simtom yang
dideritanya dan menuturkan bahwa apa yang biasanya dianggap sebagai aktivitas
yang menyenangkan tidaklah dirasakan demikian lagi bagi mereka.
Afek Datar merupakan, gejala pandangan kosong, otot wajah yang
kendur dan mata yang tidak hidup. Ketika diajak bicara, mereka menjawab dengan
suara datar, dan tanpa nada.
Asosialitas, merupakan ketidakmampuan dalam menjalin hubungan
sosial. Mereka hanya memiliki sedikit teman, keterampilan sosial yang rendah
dan kurang berminat untuk berkumpul bersama orang lain.
1.3 Simtom
Disorganisasi
Simtom ini mencangkup
disorganisasi pembicaraan dan prilaku aneh.
a) Disorganisasi
pembicaraan ; dikenal sebagai gangguan berfikir formal yang merujuk pada
masalah mengorganisasikan pemikiran dalam berbicara. Sehingga pendengar dapat
mengetahui ada suatu hal yang aneh. Dalam disorganisasi pembicaraan, kadang
pasien mengalami apa yang disebut asosiasi longgar atau keluar jalur (derailment) yakni pasien berhasil dalam
komunikasi namun kesulitan untuk tetap berada pada suatu topik.
b) Perilaku
aneh terwujud dalam banyak bentuk. Pasien dapat meledak kemarahannya dalam
konfrontasi singkat yang tidak dimengerti; seperti memakai pakaian yang tidak
biasa, bertingkah laku seperti anak-anak, atau dengan gaya yang konyol
menyimpan makanan, mengumpulkan sampah, atau melakukan perilaku seksual yang
tidak pantas seperti melakukan masturbasi di depan umu. Mereka tampak
kehilangan kemampuan untuk mengatur perilaku dan menyesuaikan dengan standar
masyarakat.
(1) Diovan (valsartan)
digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi atau dapat juga digunakan untuk
mengobati gagal jantung pada pasien yang tidak mentoleransi angiotensin-converting
enzyme (ACE) inhibitor. Diovan adalah angiotensin II receptor blocker yang
bekerja dengan cara memblokir hormon yang mengencangkan pembuluh darah. Hal ini
menyebabkan pembuluh darah untuk bersantai (dilatasi), yang menurunkan tekanan
darah dan mengurangi beban kerja pada jantung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar